09-10 APRIL 2016
Sabtu, 9 April 2016 adalah hari dimana pendakian ini
kami mulai. Sebetulnya tidak ada rencana pasti yang mendasari sebuah pendakian
kali ini. Hanya saja kesamaan waktu senggang yang kami milki membuat hasrat untuk
kembali menginjakan kaki di puncak tertinggi Jawa Tengah ini. Pendakian kali
ini diikuti oleh 10 orang, 8 laki-laki dan 2 srikandi. Pendakian dimulai dari
sekretariat KPG Regional Barlingmascakeb di Jalan Topi Baja, Perumahan Ledug,
Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas. Tepat pukul 11.30 WIB kami berangkat
menggunakan kuda besi yang kami milki. Rencana awal kami yaitu menuju basecamp
pendakian gunung Slamet melewati Kebun Raya Baturraden di sisi utara Kabupaten
Banyumas, tetapi sayangnya rencana ini tiba-tiba saja langsung kami batalkan.
Alternatif terbaik yang kami pilih yaitu melalui Kabupaten Purbalingga. Tidak butuh
waktu lama untuk sampai di basecamp Dusun Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan
Karangreja, Kabupaten Purbalingga. Waktu tempuh dari Kabupaten Banyumas hingga
basecamp pendakian gunung Slamet ± 1 jam perjalanan dengan menggunakan
kendaraan pribadi. Sebenarnya banyak alat transportasi yang dapat digunakan
untuk menuju basecamp tersebut. Misalnya saja jika menggunakan kendaraan umum,
pendaki dari luar kota bisa turun di terminal Purwokerto atau stasiun
Purwokerto, kemudian naik bus hingga terminal Purbalingga dan dilanjutkan
dengan menaiki angkutan kota atau bus jurusan Bobotsari. Setelah sampai di
pertigaan menuju basecamp pendakian di Kecamatan Mrebet, pendaki bisa kembali
melanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkutan desa atau mobil bak terbuka
yang menuju ke Desa Kutabawa, sedikit info untuk akses menuju basecamp
pendakian gunung Slamet di dusun Bambangan. Sesampainya di basecamp, kami
langsung memarkirkan sepeda motor kami masing-masing. Biaya parkir disekitar
basecamp hanya Rp.10.000,- tidak termasuk retribusi masuk kawasan gunung
Slamet. Setelah semua sepeda motor kami terparkir denga rapi, kami langsung
menuju rumah bapak Sugeng dibawah pondok pemuda. Rumah ini biasa digunakan oleh
pendaki untuk bermalam dan mengisi perut sebelum mendaki atau setelah turun
dari gunung Slamet. Perjalanan menanjak dengan carierl di punggung membuat
tubuh kami sedikit kehilangan tenaga, akhirnya kami memutuskan untuk mengisi
perut sebelum melakukan pendakian. Makanan yang dijual oleh masyarakat sekitar
basecamp juga cukup terjangkau, hanya dengan Rp 10.000,- kita bisa
mengenyangkan perut dengan nasi, sayur dan telor, ditambah lagi dengan teh
manis hangat yang disajikan dengan sangat ramah membuat kami ingin berlama-lama
tinggal dan berbaur dengan masyarakat sekitar basecamp. Perut sudah terisi,
tenaga dan semangat sudah kembali, akhirnya kami memutuskan untuk segera
melakukan pendakian.
Semua carierl sudah menempel di punggung kami
masing-masing, itu pertanda pendakian akan dimulai. Ini hal terpenting yang
harus dilakukan oleh pendaki, yaitu melakukan registrasi di pondok pemuda atau
basecamp pendakian gunung Slamet. Setiap pendaki dikenakan biaya retribusi
sebesar Rp. 5.000,-, tidak hanya itu saja, pendaki diminta untuk menuliskan
nama, asal, tanggal keberangkatan dan tanggal kepulangan. Setiap pendaki juga
harus mencantumkan nomer handphone yang dapat dihubungi, serta menitipkan kartu
identitas seperti KTP yang dapat diambil sewaktu pulang. Semua kewajiban sudah
kami tuntaskan, akhirnya dengan diawali doa bersama kami mulai melakukan
pendakian sekitar pukul 15.30 WIB. Perjalanan menuju Pos 1 (Pondok Gembirung)
dimulai dengan melewati perkebunan warga yang didominasi oleh tanaman
sayur-sayuran khas daerah pegunungan. Suasana sejuk membuat kami semakin
menikmati pendakian kali ini, butuh waktu sekitar 20 menit untuk dapat melewati
perkebunan warga. Selepas itu kami disambut dengan rindangnya pohon pinus yang
berada di sisi kanan dan kiri menuju ke Pos 1 gunung Slamet. Trek yang kami
lewati semakin menanjak, hal ini membuat semangat kami semakin meningkat.
Setiap langkah yang kami lakukan sangatlah berharga. Sesekali kami beristirahat
untuk kembali mengumpulkan tenaga agar bisa sampai di puncak tertinggi gunung
Slamet ini. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk dapat melewati rimbunnya pohon
pinus yang berada sebelum Pos 1. Jika digabungkan, berarti waktu tempuh dari
basecamp menuju Pos 1 yaitu sekitar 40-60 menit. Sesampainya di Pos 1, sudah
banyak pendaki lain yang sedang beristirahat sebelum naik ataupun sedang turun.
Kamipun juga memutuskan untuk beristirahat sejenak menghilangkan letih di tubuh
yang sedikit melanda selama perjalanan dari basecamp.

Sekitar 15 menit kami beristirahat, akhirnya kami
memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju Pos 2 (Pondok Walang).
Trek yang kami lalui semakin menanjak, bonus-bonus pendakian (jalan sedikit
datar) sudah semakin berkurang, tetapi kami tidak akan patah semangat untuk
dapat kembali menginjakan kaki di puncak gunung tertinggi kedua di pulau jawa
ini. Butuh waktu sekitar 50-70 menit untuk dapat mencapai Pos 2. Setiap pendaki
yang ingin mengunjungi gunung Slamet sudah tidak usah khawatir kehabisan
logistik didalam perjalan, karena hampir disetiap pos pendakian pasti ada
penjual makanan dan minuman yang dijajakan disana. Sebenarnya hal ini sempat
menjadi perbincangan hangat dikalangan para pendaki. Banyak yang pro tetapi ada
juga yang kontra tentang keberadaan penjual makanan di gunung Slamet. Banyak
yang takut gunung Slamet akan menjadi kotor/banyak sampah karena keberadaan
para penjual ini, tetapi banyak juga pendaki yang terbantu dengan
keberadaannya. Entah bagaimana solusinya, disisi lain para penjual ini ingin
mencari nafkah untuk kebutuhan hidup, tetapi ditakutkan banyak sampah yang
tertinggal karena keberadaannya. Perbincangan kami dengan para penjual disana
sedikit menjawab masalah yang ada. Para penjual ini juga sudah pernah berkumpul
untuk membahas masalah tersebut, akhirnya diputuskan bahwa mereka akan tetap
berjualan tetapi harus menjaga kebersihan dan keasrian alam gunung Slamet.
Malahan, mereka juga bersedia untuk membersihkan sampah disekitar pos yang
kadang-kadang ditinggal pendaki tidak bertanggung jawab.
Langit semakin gelap, ini pertanda bahwa kami harus
menyiapkan senter untuk menemani kami mendaki. Waktu menunjukan pukul 17.45
WIB, akhirnya kami sampai di Pos 2. Disini kami kembali beristirahat sejenak
melamaskan otot kaki yang semakin menegang menahan beratnya carierl di punggung
dan terjalnya trek yang kami lewati.

Tidak ingin berlama-lama terlarut dalam kenyamanan
ini. Kenyamanan yang muncul saat duduk terdiam dibawah pohon rindang seraya
melemaskan otot setelah lelah berjalan menanjak selama ± 2 jam perjalanan. Hal
ini yang membuat mata kami semakin berat untuk terbuka. Tetapi, keinginan kami
untuk bersama-sama mencapai puncak dapat mengalahkan rasa letih dan mengantuk
yang menghinggapi tubuh kami. Akhirnya, kami memutuskan untuk kembali
melanjutkan perjalanan menuju Pos 3 (Cemara). Sesampainya di Pos 3, ada 3 orang
yang memutuskan untuk mendaki lebih awal menuju ke Pos 7 untuk mendirikan
tenda. Hal ini bertujuan agar teman kami yang sudah terlalu letih dapat
langsung beristirahat di tenda yang sudah didirikan di Pos 7. Perjalanan dari
Pos 3 menuju Pos 4 (Samarantu) membutuhkan waktu sekitar 40-60 menit. Sesampainya
di Pos 4, kami memutuskan untuk tidak beristirahat dan kembali untuk
melanjutkan pendakian. Tepat pukul 21.00 WIB, kami sampai di Pos 5 (Samhyang
Rangkah).

Perjalananpun kembali lanjutkan menuju Pos 6 (Samhyang
Jampang) dan Pos 7 (Samhyang Ketebunan). Sesampainya di Pos 7, kami langsung
mendirikan 3 tenda yang kami bawa. Dua tenda berada di sebelah kiri pondok dan
1 tenda berada di sebelah kanan pondok. Sebelum kami mendirikan tenda, sudah
banyak tenda-tenda milik pendaki lain yang berdiri disana. Setelah ketiga tenda
berhasil kami dirikan, selanjutnya kami memasak air dan menyeduh jahe untuk
sedikit menghangatkan badan, sembari menunggu ketujuh teman kami yang masih
dalam perjalanan. Sekian lama menunggu, mereka tidak kunjung datang, akhirnya
kami memutuskan untuk tidur terlebih dahulu. Tepat pukul 01.00 WIB terdengar suara
panggilan ditelinga kami, ternyata ketujuh teman kami telah sampai di Pos 7,
langsung saja kami menyiapkan kompor dan logistik untuk dimasak. Setelah perut
terisi, kami kembali beristirahat untuk mengumpulkan tenaga, agar esok hari
dapat melanjutkan pendakian menuju puncak. Pukul 04.00 WIB, ketiga teman kami
memutuskan untuk melanjutkan pendakian terlebih dahulu, dilanjutkan pada pukul
06.00 WIB saya dan 3 teman lain kembali melanjutkan pendakian. Tetapi, ada 3
orang teman kami yang hanya tidur dan beristirahat di tenda dan memutuskan
untuk tidak mencapai puncak. Perjalanan dari Pos 7 menuju Pos 8 (Samhyang
Kendit) membutuhkan waktu ± 20 menit. Sesampainya di Pos 8 kami langsung
melanjutkan pendakian ke Pos 9 (Plawangan) agar lebih cepat untuk mencapai puncak.
Dua puluh menit berlalu sampailah kami di Pos 9. Sejenak kami duduk dan
memandang lautan awan yang berada tepat didepan pandangan kami. Dengan
sisa-sisa tenaga yang kami milki, akhirnya pendakian kembali dilanjutkan
melewati bebatuan merah yang sangat rawan untuk terjatuh. Kami sangat
berhati-hati saat melewatinya, hal ini dimaksudkan agar batu yang kami injak
tidak longsor kebawah dan dapat mengenai pendaki lain. Perjalanan dari Pos 9
menuju puncak gunung Slamet dapat ditempuh dalam waktu ± 45-60 menit. Waktu
menunjukan pukul 07.30 WIB, sampailah kami di puncak tertinggi gunung Slamet.
TAMAT

