Selasa, 12 April 2016

PENDAKIAN GUNUNG SLAMET 3428 MDPL VIA BAMBANGAN (09-10 APRIL 2016)

Pendakian Gunung Slamet Via Bambangan (09-10 April 2016)

PENDAKIAN GUNUNG SLAMET
09-10 APRIL 2016
Sabtu, 9 April 2016 adalah hari dimana pendakian ini kami mulai. Sebetulnya tidak ada rencana pasti yang mendasari sebuah pendakian kali ini. Hanya saja kesamaan waktu senggang yang kami milki membuat hasrat untuk kembali menginjakan kaki di puncak tertinggi Jawa Tengah ini. Pendakian kali ini diikuti oleh 10 orang, 8 laki-laki dan 2 srikandi. Pendakian dimulai dari sekretariat KPG Regional Barlingmascakeb di Jalan Topi Baja, Perumahan Ledug, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas. Tepat pukul 11.30 WIB kami berangkat menggunakan kuda besi yang kami milki. Rencana awal kami yaitu menuju basecamp pendakian gunung Slamet melewati Kebun Raya Baturraden di sisi utara Kabupaten Banyumas, tetapi sayangnya rencana ini tiba-tiba saja langsung kami batalkan. Alternatif terbaik yang kami pilih yaitu melalui Kabupaten Purbalingga. Tidak butuh waktu lama untuk sampai di basecamp Dusun Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga. Waktu tempuh dari Kabupaten Banyumas hingga basecamp pendakian gunung Slamet ± 1 jam perjalanan dengan menggunakan kendaraan pribadi. Sebenarnya banyak alat transportasi yang dapat digunakan untuk menuju basecamp tersebut. Misalnya saja jika menggunakan kendaraan umum, pendaki dari luar kota bisa turun di terminal Purwokerto atau stasiun Purwokerto, kemudian naik bus hingga terminal Purbalingga dan dilanjutkan dengan menaiki angkutan kota atau bus jurusan Bobotsari. Setelah sampai di pertigaan menuju basecamp pendakian di Kecamatan Mrebet, pendaki bisa kembali melanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkutan desa atau mobil bak terbuka yang menuju ke Desa Kutabawa, sedikit info untuk akses menuju basecamp pendakian gunung Slamet di dusun Bambangan. Sesampainya di basecamp, kami langsung memarkirkan sepeda motor kami masing-masing. Biaya parkir disekitar basecamp hanya Rp.10.000,- tidak termasuk retribusi masuk kawasan gunung Slamet. Setelah semua sepeda motor kami terparkir denga rapi, kami langsung menuju rumah bapak Sugeng dibawah pondok pemuda. Rumah ini biasa digunakan oleh pendaki untuk bermalam dan mengisi perut sebelum mendaki atau setelah turun dari gunung Slamet. Perjalanan menanjak dengan carierl di punggung membuat tubuh kami sedikit kehilangan tenaga, akhirnya kami memutuskan untuk mengisi perut sebelum melakukan pendakian. Makanan yang dijual oleh masyarakat sekitar basecamp juga cukup terjangkau, hanya dengan Rp 10.000,- kita bisa mengenyangkan perut dengan nasi, sayur dan telor, ditambah lagi dengan teh manis hangat yang disajikan dengan sangat ramah membuat kami ingin berlama-lama tinggal dan berbaur dengan masyarakat sekitar basecamp. Perut sudah terisi, tenaga dan semangat sudah kembali, akhirnya kami memutuskan untuk segera melakukan pendakian.
Semua carierl sudah menempel di punggung kami masing-masing, itu pertanda pendakian akan dimulai. Ini hal terpenting yang harus dilakukan oleh pendaki, yaitu melakukan registrasi di pondok pemuda atau basecamp pendakian gunung Slamet. Setiap pendaki dikenakan biaya retribusi sebesar Rp. 5.000,-, tidak hanya itu saja, pendaki diminta untuk menuliskan nama, asal, tanggal keberangkatan dan tanggal kepulangan. Setiap pendaki juga harus mencantumkan nomer handphone yang dapat dihubungi, serta menitipkan kartu identitas seperti KTP yang dapat diambil sewaktu pulang. Semua kewajiban sudah kami tuntaskan, akhirnya dengan diawali doa bersama kami mulai melakukan pendakian sekitar pukul 15.30 WIB. Perjalanan menuju Pos 1 (Pondok Gembirung) dimulai dengan melewati perkebunan warga yang didominasi oleh tanaman sayur-sayuran khas daerah pegunungan. Suasana sejuk membuat kami semakin menikmati pendakian kali ini, butuh waktu sekitar 20 menit untuk dapat melewati perkebunan warga. Selepas itu kami disambut dengan rindangnya pohon pinus yang berada di sisi kanan dan kiri menuju ke Pos 1 gunung Slamet. Trek yang kami lewati semakin menanjak, hal ini membuat semangat kami semakin meningkat. Setiap langkah yang kami lakukan sangatlah berharga. Sesekali kami beristirahat untuk kembali mengumpulkan tenaga agar bisa sampai di puncak tertinggi gunung Slamet ini. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk dapat melewati rimbunnya pohon pinus yang berada sebelum Pos 1. Jika digabungkan, berarti waktu tempuh dari basecamp menuju Pos 1 yaitu sekitar 40-60 menit. Sesampainya di Pos 1, sudah banyak pendaki lain yang sedang beristirahat sebelum naik ataupun sedang turun. Kamipun juga memutuskan untuk beristirahat sejenak menghilangkan letih di tubuh yang sedikit melanda selama perjalanan dari basecamp.
Sekitar 15 menit kami beristirahat, akhirnya kami memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju Pos 2 (Pondok Walang). Trek yang kami lalui semakin menanjak, bonus-bonus pendakian (jalan sedikit datar) sudah semakin berkurang, tetapi kami tidak akan patah semangat untuk dapat kembali menginjakan kaki di puncak gunung tertinggi kedua di pulau jawa ini. Butuh waktu sekitar 50-70 menit untuk dapat mencapai Pos 2. Setiap pendaki yang ingin mengunjungi gunung Slamet sudah tidak usah khawatir kehabisan logistik didalam perjalan, karena hampir disetiap pos pendakian pasti ada penjual makanan dan minuman yang dijajakan disana. Sebenarnya hal ini sempat menjadi perbincangan hangat dikalangan para pendaki. Banyak yang pro tetapi ada juga yang kontra tentang keberadaan penjual makanan di gunung Slamet. Banyak yang takut gunung Slamet akan menjadi kotor/banyak sampah karena keberadaan para penjual ini, tetapi banyak juga pendaki yang terbantu dengan keberadaannya. Entah bagaimana solusinya, disisi lain para penjual ini ingin mencari nafkah untuk kebutuhan hidup, tetapi ditakutkan banyak sampah yang tertinggal karena keberadaannya. Perbincangan kami dengan para penjual disana sedikit menjawab masalah yang ada. Para penjual ini juga sudah pernah berkumpul untuk membahas masalah tersebut, akhirnya diputuskan bahwa mereka akan tetap berjualan tetapi harus menjaga kebersihan dan keasrian alam gunung Slamet. Malahan, mereka juga bersedia untuk membersihkan sampah disekitar pos yang kadang-kadang ditinggal pendaki tidak bertanggung jawab.
Langit semakin gelap, ini pertanda bahwa kami harus menyiapkan senter untuk menemani kami mendaki. Waktu menunjukan pukul 17.45 WIB, akhirnya kami sampai di Pos 2. Disini kami kembali beristirahat sejenak melamaskan otot kaki yang semakin menegang menahan beratnya carierl di punggung dan terjalnya trek yang kami lewati.  
Tidak ingin berlama-lama terlarut dalam kenyamanan ini. Kenyamanan yang muncul saat duduk terdiam dibawah pohon rindang seraya melemaskan otot setelah lelah berjalan menanjak selama ± 2 jam perjalanan. Hal ini yang membuat mata kami semakin berat untuk terbuka. Tetapi, keinginan kami untuk bersama-sama mencapai puncak dapat mengalahkan rasa letih dan mengantuk yang menghinggapi tubuh kami. Akhirnya, kami memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju Pos 3 (Cemara). Sesampainya di Pos 3, ada 3 orang yang memutuskan untuk mendaki lebih awal menuju ke Pos 7 untuk mendirikan tenda. Hal ini bertujuan agar teman kami yang sudah terlalu letih dapat langsung beristirahat di tenda yang sudah didirikan di Pos 7. Perjalanan dari Pos 3 menuju Pos 4 (Samarantu) membutuhkan waktu sekitar 40-60 menit. Sesampainya di Pos 4, kami memutuskan untuk tidak beristirahat dan kembali untuk melanjutkan pendakian. Tepat pukul 21.00 WIB, kami sampai di Pos 5 (Samhyang Rangkah).
Perjalananpun kembali lanjutkan menuju Pos 6 (Samhyang Jampang) dan Pos 7 (Samhyang Ketebunan). Sesampainya di Pos 7, kami langsung mendirikan 3 tenda yang kami bawa. Dua tenda berada di sebelah kiri pondok dan 1 tenda berada di sebelah kanan pondok. Sebelum kami mendirikan tenda, sudah banyak tenda-tenda milik pendaki lain yang berdiri disana. Setelah ketiga tenda berhasil kami dirikan, selanjutnya kami memasak air dan menyeduh jahe untuk sedikit menghangatkan badan, sembari menunggu ketujuh teman kami yang masih dalam perjalanan. Sekian lama menunggu, mereka tidak kunjung datang, akhirnya kami memutuskan untuk tidur terlebih dahulu. Tepat pukul 01.00 WIB terdengar suara panggilan ditelinga kami, ternyata ketujuh teman kami telah sampai di Pos 7, langsung saja kami menyiapkan kompor dan logistik untuk dimasak. Setelah perut terisi, kami kembali beristirahat untuk mengumpulkan tenaga, agar esok hari dapat melanjutkan pendakian menuju puncak. Pukul 04.00 WIB, ketiga teman kami memutuskan untuk melanjutkan pendakian terlebih dahulu, dilanjutkan pada pukul 06.00 WIB saya dan 3 teman lain kembali melanjutkan pendakian. Tetapi, ada 3 orang teman kami yang hanya tidur dan beristirahat di tenda dan memutuskan untuk tidak mencapai puncak. Perjalanan dari Pos 7 menuju Pos 8 (Samhyang Kendit) membutuhkan waktu ± 20 menit. Sesampainya di Pos 8 kami langsung melanjutkan pendakian ke Pos 9 (Plawangan) agar lebih cepat untuk mencapai puncak. Dua puluh menit berlalu sampailah kami di Pos 9. Sejenak kami duduk dan memandang lautan awan yang berada tepat didepan pandangan kami. Dengan sisa-sisa tenaga yang kami milki, akhirnya pendakian kembali dilanjutkan melewati bebatuan merah yang sangat rawan untuk terjatuh. Kami sangat berhati-hati saat melewatinya, hal ini dimaksudkan agar batu yang kami injak tidak longsor kebawah dan dapat mengenai pendaki lain. Perjalanan dari Pos 9 menuju puncak gunung Slamet dapat ditempuh dalam waktu ± 45-60 menit. Waktu menunjukan pukul 07.30 WIB, sampailah kami di puncak tertinggi gunung Slamet. TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar